Posts in Artikel

Kelebihan Buka Puasa Di Masjid

Ada satu kegiatan yang hukumnya hampir wajib wkwkwkw bagi beberapa kelompok manusia yang berdomisili di Yogyakarta ini. Mahasiswa termasuk saya dan yang lainnya. Apa itu? Berburu takjil atau buka puasa di masjid.

eitttt jangan salah dulu, ini bukan tentang hemat, ini tentang 

belum selsai, lagi malessssss hahahah

Tantangan 30 Hari Perut Rata

Saatnya teriak “ohhhhh myyyyyyy Gooooooodddddd” sepertinya aku sudah cocok untuk menjadi model prenagent. Perutku dulu tak begni tp sekarang sungguh subur.
Motivasiku meningkatkan berat badan cuma 1; AGAR BISA DITERIMA SEBAGAI PENDONOR DARAH. CeRitanya dulu pernah ditolak untuk donor darah karna berat badan pas 50 kg. Perjuanganku banyak makan sebernarnya untuk menaikan berat badan, bukan memajukan perut :v. Alhamdulillah berat badanku sudah naik 5 kg tp belum menyempatkan donor. Bismillah lah, secepatnya.
Ok, untuk mengembalikan bentuk perutku ke bentuk semula, mari kita mengikuti tantangan dari web ini. hehe. SEMANGAAAAAAATTTT

Inspirasi: Raeni Si Anak Tukang Becak

*jika ada kesalahan dalam penulisan kata dan atau tidak sesuai EYD, hal ini memang disengaja oleh penulisannya. :v

Bismillah.. 

Kartini versi 2.1


Yogyakrta, 14 Juni 14.
Ditengah hiruk pikunya pemberitaan tentang politik, ada satu berita yang mengispirasi dan mengharukan. Bagaikan menemukan sebotol air di tengah padang pasir. Yap. dia adalah Raeni Si Anak Tukang Becak yang baru-baru ini menjadi ramai diberitakan diberbagai media Indonesia karna prestasinya sebagai lulusan terbaik Universitas Negeri Semarang fakultas Ekonomi prodi Akuntansi dengan IPK hampir sempurna. hhhhhhhhehhhhheeeehhhhhssss – lega

Agak lebai dikit, tapi jujur aja Raeni itu menurutku seperti “Kartini”nya orang2 kurang mampu, mungkin bisa dibilang Kartini Ver 2.1. Kalo dulu kartini memperjuangkan hak2 perempuan agar bisa mengeyam bangku sekolah, kalo Raeni memberikan contoh bahwa orang “miskin” bisa pergi ke sekolah bahkan sampai tingkat Universitas. Mungkin kuncinya adalah semangat, keuletan, strategi belajar yang jitu dan do’a. Sangat mengispirasi.

Semoga dengan adanya Reani Si Anak Tukang Becak ini mampu menghapuskan pribahasa negatif “ORANG MISKIN DILARANG SEKOLAH”. Dengan semangat dan prestasinya Raeni menyumpelllll mulut orang2 yang sering mengeluh gak bisa sekolah lantaran terkendala biaya. Bayangkan!, di tahun 2014 ini, tahun dimana banyak dari keturunan homo sapiens mojoketensis mengalami shock culture dengan budaya barat dan korea, tahun dimana GENGSI menjadi berhala baru, era dimana pakaian, kendaraan dan gadget menjadi standar status seseorang. Cukkkkk tenan kan!?,,,

Tapi liat foto dibawah ini, di pesta kelulusannya, Raeni di anter oleh ayahnada tercinta dengan becak yang digunakan sehari-hari untuk mencari nafkah. Dengan senyum bangga ayahnya karna putri tercintanya yang cantik akan diwisuda dan senyum tulus Raini yang seolah2 tanpa rasa malu dan bangga menunjukan identitasnya sebgai “anak tukang becak”. Tarharu terus kl liat foto ini :(… we love u, Raeni.

Dianter ayah tercinta.
Raeni, ayah dan becak.
Disambut rektor UNS
Semoga Raeni diberikah kemudahan dalam segala hal, dan tetap menjadi inspirasi kita semua. Semoga kedua orang tuanya selalu berada dalam rahmat dan lindungan Allah S.W.T.
Dan semoga cerita Raeni Si Anak Tukang Becak masih terus dikenang sampai anak cucu kita nanti. Sejajar dengan cerita2 inspiratif yang melegenda sampai sekarang.
Berita lain yang mengispirsi, siapkan tisue. yang cowok jangan ngeres.


Presiden SBY Hadiahi Putri Penarik Becak Beasiswa ke Inggris sumber
VIVAnews – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ibu Negara Ani Yudhoyono bertemu dengan Raeni dan ayahnya, Mugiono, di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, sebelum bertolak ke Bali, Jumat 13 Juni 2014. Dalam pertemuan itu, SBY menghadiahi Raeni beasiswa untuk melanjutkan studinya. 
Raeni adalah lulusan terbaik program S1 Universitas Negeri Semarang (Unnes) periode 2 tahun 2014. Dia tak menyangka bisa bertemu dengan Presiden SBY dan Ibu Negara Ani Yudhoyono. Sebab sebelumnya, Raeni dan Mugiyono mengira akan bertemu dengan para menteri.
Dilansir laman Presiden RI, begitu bertemu dengan SBY dan Ani, Raeni dan Mugiyono tampak sangat terharu hingga menitikkan air mata dan mengucap syukur. Dalam pertemuan itu, mengucapkan selamat atas prestasi Raeni yang lulus dengan IPK 3,96 dalam waktu 3 tahun 6 bulan 10 hari.
Lulusan fakultas eknomi jurusan Akuntansi Unnes ini adalah salah satu penerima beasiswa Bidikmisi yaitu beasiswa bagi mahasiswa berlatar belakang keluarga kurang mampu namun memiliki prestasi baik di bidang akademik.
“Ini membuktikan putra-putri Indonesia hebat. Siapapun bisa berprestasi dari kalangan yang punya ataupun yang kurang punya. Pak SBY juga dulu dari keluarga yang tidak kaya, pas-pasan, tapi bisa berprestasi,” ujar SBY kepada Raeni.
SBY pun bertanya kepada Raeni apa rencana setelah lulus dari perguruan tinggi. “Saya ingin melanjutkan pendidikan, (nanti) jadi guru di perguruan tinggi,” ujar Raeni.
“Saya sudah berbicara dengan Mendikbud, semua sependapat bahwa negara, pemerintah, saya harus mendorong dan membantu Raeni mencapai cita-citanya,” ujar Presiden menanggapi cita-cita Raeni itu.
Untuk itu, SBY ingin memberikan beasiswa presiden kepada Raeni agar bisa melanjutkan sekolahnya di luar negeri. Kemudian SBY meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk memasukkan nama Raeni dalam daftar penerima beasiswa presiden.
“Ada sekarang beasiswa presiden, tidak banyak yang bisa masuk situ karena pilihan yang berprestasi kemudian punya semangat untuk maju,” ujar SBY.
Kursus Intensif
SBY menyerahkan pilihannya kepada Raeni ingin melanjutkan ke perguruan tinggi mana pun dan dimana pun. SBY berjanji akan memberikan beasiswa itu, dan berharap Raeni akan berhasil sehingga dapat mengabdi kembali ke Indonesia. 
Raeni menyatakan minatnya kepada SBY dan Ani Yudhohoyo untuk melanjutkan studinya di Inggris. Ani sempat mengingatkan Raeni untuk mempersiapkan diri untuk mencapai nilai TOEFL yang disyaratkan. “Akan kita bimbing, pendidikan intensif Bahasa Inggris setelah itu akan saya berikan beasiswa untuk universitas terbaik di luar negeri,” kata Ani
Meski nanti SBY sudah tidak lagi menjabat sebagai presiden, dia akan terus mengikuti perkembangan prestasi Raeni, dan beasiswa yang telah dijanjikan akan segera diperolehnya. (ren)

Semoga bermanfaat..

Modal Hidup Adalah…?

Bismillah..

#!/usr/dev/env python
Pidato Kelulusan Pelajar SMA yang menggetarkan dan menggugat kesadaran kita atas makna sistem pendidikan, pidato ini diucapkan oleh Erica Goldson, pelajar di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010.

“Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan, terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan, saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.

Di sini saya berdiri, dan seharusnya bangga bahwa saya telah selesai mengikuti periode indoktrinasi ini. Saya akan pergi musim dingin ini dan menuju tahap berikut yang akan datang kepada saya, setelah mendapatkan sebuah dokumen kertas yang mensertifikasikan bahwa saya telah sanggup bekerja.

Tetapi saya adalah seorang manusia, seorang pemikir, pencari pengalaman hidup – bukan pekerja. Pekerja adalah orang yang terjebak dalam pengulangan, seorang budak di dalam sistem yang mengurung dirinya. Sekarang, saya telah berhasil menunjukkan kalau saya adalah budak terpintar. Saya melakukan apa yang disuruh kepadaku secara ekstrim baik. Di saat orang lain duduk melamun di kelas dan kemudian menjadi seniman yang hebat, saya duduk di dalam kelas rajin membuat catatan dan menjadi pengikut ujian yang terhebat.

Saat anak-anak lain masuk ke kelas lupa mengerjakan PR mereka karena asyik membaca hobi-hobi mereka, saya sendiri tidak pernah lalai mengerjakan PR saya. Saat yang lain menciptakan musik dan lirik, saya justru mengambil ekstra SKS, walaupun saya tidak membutuhkan itu. Jadi, saya penasaran, apakah benar saya ingin menjadi lulusan terbaik? Tentu, saya pantas menerimanya, saya telah bekerja keras untuk mendapatkannya, tetapi apa yang akan saya terima nantinya? Saat saya meninggalkan institusi pendidikan, akankah saya menjadi sukses atau saya akan tersesat dalam kehidupan saya?

Saya tidak tahu apa yang saya inginkan dalam hidup ini. Saya tidak memiliki hobi, karena semua mata pelajaran hanyalah sebuah pekerjaan untuk belajar, dan saya lulus dengan nilai terbaik di setiap subjek hanya demi untuk lulus, bukan untuk belajar. Dan jujur saja, sekarang saya mulai ketakutan…….”

Sumber : Link

Semoga bermanfaat..

“Score Oriented” dan Falsafah Hidup

Bismillah.. 

Kau boleh menghina aku yang sangat berantusias mendapatkan kedudukan, kawan… Kau boleh mengatakan aku sebagai orang munafik yang berpura-pura baik di hadapan manusia… Tetapi tahukah engkau kenapa aku menjadi seperti ini?

Jangan salahkan aku kawan… Jika kini aku telah menjadi manusia yang gila akan kedudukan. Jika kini aku ingin menjadi yang terbaik di antara kalian. Aku terlahir dalam lingkungan yang selalu mengedepankan persaingan. Tidak kah engkau menyadari sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga mahasiswa aku selalu mendapatkan pendidikan tentang itu. Aku belajar untuk memperoleh nilai. Aku belajar untuk mmperoleh peringkat.

Ketika nilaiku rendah, mereka memperbandingkan aku dengan teman-temanku yang lain. Mereka selalu mempertanyakan kenapa aku tidak bisa seperti teman-temanku. Memang benar, mereka tidak langsung melontarkan kata ”malas dan bodoh” ke arah mukaku. Namun aku mengerti akan pandangan kehinaan itu.

Ketika aku mendapatkan nilai yang baik, mereka menyanjungku hingga aku tak mampu menguasai diriku lagi. Mereka memuji dengan kata-kata manis dan angan-angan palsu. Meraka menempatkan posisiku menjadi bagian terpenting di dalam kelas.

Kau lihat.. Segala sesuatu yang ada padaku selalu diukur dengan nilai. Catatanku mereka nilai… Pengetahuanku mereka nilai… Penampilanku mereka nilai… Akhlakku juga mereka ukur dengan nilai… Wajar jika aku selalu mengedepankan penilaian. Wajar aku memperbandingkan diriku dengan orang lain. Wajar juga aku ingin mencari kedudukan di hadapan mereka.

Lebih parahnya kawan.. Ketika aku telah belajar bersusah payah, tetapi mereka tidak menghargai jerih upayaku. Kau pasti tahu  apa yang mereka lihat? Ya.. tentu saja nilai..

Kawan… hatiku begitu hancur. Ketika aku berpegang kepada kejujuran, sementara orang-orang yang mengaku sebagai para penuntut ilmu itu dengan seenaknya melakukan kecurangan di depan mata kepalaku sendiri. Kau tahu tidak, justru mereka yang diagung-agungkan sedangkan aku malah dihinakan karena kejujuranku. Jangan salahkan aku jika aku terdidik menjadi orang yang menghalalkan segala cara untuk meraih apa yang ku inginkan.

Ya begitulah kawan.. Selama ini aku hanya diajarkan untuk mendapatkan nilai yang baik. Aku hanya diajarkan untuk bisa mendapatkan gelar yang akan melekat pada namaku. Agar nanti aku bisa berbangga diri di hadapanmu.. Aku juga hanya diajarkan bagaimana mendapatkan penialian baik dihadapan manusia… Sedangkan aku tak pernah diajarkan bagaimana nikmatnya menuntut ilmu..

Jika engakau mengatakan  nilai sebagai motivasi untuk belajar, engkau sungguh salah besar kawan.. Mungkin benar untuk memotivasi, tetapi memotivasi untuk mengejar penghargaan manusiakah yang engkau maksudkan?

Aku tidak pernah mendengar Rasulullah  SAW yang menjadi suri tauladan kita dalam segala aspek kehidupan pernah mendidik para sahabatnya dengan menggunakan sistem penilaian. Rasulullah justru memotivasi mereka dengan menjelaskan akan keutamaan orang yang berilmu dalam pandangan Allah. Bukan pandangan manusia yang hanya diukur dengan nilai. Wajar menurutku jika generasi para sahabat tidak mengharapkan kedudukan dihadapan manusia dan hanya mengaharapkan kedudukan di hadapan Allah SWT.

Oleh : Salahuddin Al Ayubi

Semoga bermanfaat..

Mengurai Kalimat Kompleks

Erwin A Latif, Mengurai Kalimat Kompleks

Bismillah…..

Baru nyadar ternyata sayah (lg nyunda niiihhh) punya blog… Bedhuuuul geus sabaraha bulan yeuh blog teu ka urus??? 

Ngeri, nonton berita tentang geng motor saat ini. Lucu, memperhatikan konflik PSSI yang gak kunjung usai. Miris, mengikuti perkembangan pemerinatah ini. Belum lagi bencana alam, Ya Allah ampuni kami.

Sayah (sekali lagi, lg nyunda neh) cuma mahasiswa smester 6 jur Teknik Informatika ja tergelitik untuk ikut ngbacot mengomentari masalah yang ada di negeri ini, apa lagi anak Hukum, Filsafat dan temen2 segengnya pasti udah rame mendiskusikan ini dari dulu2.

Zaman Thales, filusuf besar yang hidup sekitar 5 abad sebelum masehi ada faham Reduksionisme, yaitu pemikiran yang menganggap segala sesuatu dapat dipahami dengan cara mengurai komponen penyusunnya atau bahwa proses-proses yang kompleks dan bersekala besar dapat difahami Dalam istilah-istilah yang lebih sederhana.

1. “If there is a will, there is a way”. Bagaimana orang yang tidak mengerti bahasa Inggris sama sekali memahami wisdom ini?. Yang perlu dilakuakan adalah mengurai -megartian kata per kata- dan memahami setiap katanya untuk memahami arti dari keseluruhan kalimat. Itupun belum sempurna jika diartikan secara tekstual dan mengabaikan gremetika yang ada.

2. “Mystery the moon, a hole in the sky, a supernatural nightlight, so full but often right”. Orang Barat sekalipun mungkin akan mengereyitkan dahi sebelum betul-betul memahami makna yang terkandung pada kalimat ini. “Bohemian Rhapsody” karya musisi bertalenta Freddie Mercury sampai saat ini masih ramai diperbincangkan apa sesungguhnya makna dari liriknya. “Bagai punguk merindukan rembulan” frasa yang terdiri dari empat kata ini pun tidak bisa diartikan secara tekstual atau bahkan setelah menguraikannya sekalipun.

Kalo boleh menganalogikan, masalah yang kita hadapi mungkin termasuk kedalam  analogi diatas (No 1), bisa dituntaskan dengan cara menguraikannya sampai ketitik yang paling kecil dan meahaminya sacara partial kemudian secara menyeluruh dan sempurna untuk mendapatkan solusi yang terbaik. Dan mungkin masalah yang dihadapi seperti analogi No2. Tidak cukup hanya dengan menguraikannya saja tapi memerlukan analisa dan pengalman.


Mari kita renungkan masalah apa yang sedang kita hadapi saat ini, yang dihadapi bangsa ini. Kita takut akan menjadi bangsa yang tidak bisa menyelsaikan masalahnya sendiri dan tidak tahu variabel masalahnya sendiri.


Karena reduksi terkait dengan simplikasi, selalu akan ada resiko untuk menjadi terlalu simplisiti. Oleh sebab itu, perlu sangat berhati-hati dengan apa yang persisnya boleh direduksi.


CMIW


Semoga bermanfaat.

Jobless man

A Jobless man applied for the position of ‘office boy’ at Microsoft. The HR manager interviewed him then watched him cleaning the floor as a test. 


‘You are employed’ he said. ‘Give me your e-mail address and I’ll send you the application to fill in, as well as date when you may start.’ 

The man replied ‘But I don’t have a computer, neither an email’. ‘I’m sorry’, said the HR manager. If you don’t have an email, that means you do not exist. And who doesn’t exist, cannot have the job.’ 

The man left with no hope at all. He didn’t know what to do, with only $10 in his pocket. He then decided to go to the supermarket and buy a 10Kg tomato crate. He then sold the tomatoes in a door to door round. In less than two hours, he succeeded to double his capital. He repeated the operation three times,and returned home with $60. The man realized that he can survive by this way, and started to go everyday earlier, and return late. Thus, his money doubled or tripled everyday. Shortly, he bought a car, then a truck, and then he had his own fleet of delivery vehicles. 5 years later, the man is one of the biggest food retailers in the US. He started to plan his family’s future, and decided to have a life insurance. He called an insurance broker, and chose a protection plan. When the conversation was concluded the broker asked him his email.

The man replied,’I don’t have an email.’

The broker answered curiously,

‘You don’t have an email, and yet have succeeded to build an empire. Can you imagine what you could have been if you had an e mail?!!’
The man thought for a while and replied, “Yes, I’d be an office boy at Microsoft !!”

Benih Pahala

Bismillah…
Ah.. ntar ja sholatnya kalo aku udah agak bener, baca Qurannya ntar aja ah kalo udah belajar tajwid, mau sedekah tapi takut jadi ria eee gak enak diliat malu, gak jadi bantu2 ah takut gak ikhlas mending gak usah sekalian, ih kamu minta do’a sama dia? dia kan anu, anu dan anu dan segudang alasan lainnya.
Seoarang nenek sedang menanam biji sawi diladang, cucunya yang lucu dan agak kritis bertanya “nek! kenapa satu lubang dikasih banyak biji sih? kenapa gak satu lubang satu biji aja nek?” dengan senyum dan penuh kasih sayang nenek menjawab “karna kita tidak tahu dari biji mana akan tumbuh sawi yang baik dan bagus” sambil mengecup kening cucuknya diakhir kalimat.
Banyak berbagai alasan yang menghinggapi kita untuk tidak mengerjakan amalan sholeh. Pernyataan-pernyataan atau alasan diatas mungkin salah satunya atau mungkin  lebih banyak lagi.
Rosulullah -sholallahu ‘alaihi wasallam- bersabda :
أَحَبُّ الأَْعْمَال إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَل

Amalan yang paling di cintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit. (HR Bukhori dan Muslim)

Riwayat lain :

واكْلَفُوا من الْعَمَلِ ما تُطيقون ، فإنَّ الله لا يَمَلُّ حتَّي تَملُّوا ، وإنَّ أحَبَّ الأعمال إلى الله ما دَامَ وإن قلَّ

Laksanakan amalan semampu kalian, sesungguhnya Allah tidak bosan sampai kalian (sendiri) yang bosan. dan sesungguhnya amalan yang paling di cintai Allah adalah amalan yang kontinu (berkesinambungan) walaupun sedikit. (HR Abu Daud)
 

Allah SAW menginginkan hamba-NYA untuk tidak bermuluk-muluk dalam beribadah, sedikit saja tapi dilaksanakan terus-menerus, progressive dan meningkat. Terus-menerus bisa jadi “sebanyak-banyaknya”, lebih banyak dibandingkan sedikit tapi jarang-jarang.
Jika di ambil kolerasi  dari cerita sederhana dan hadist diatas dapat diambil kesimpulan “Beribadahlah sebanyak-banyaknya dan sesering-seringnya karna kita tidak tahu dari amal ibadah yang mana yang kita benar-benar ikhlas lillah”, “Besedakahlah sesering-seringnya karna kita tidak tahu dari sedekah yang mana yang hati kita benar-benar ridho dan terlepas dari Riya”, “Tebarkanlah senyum sebanyak-banyaknya karna kita tidak tahu senyuman kita yang mana yang benar-benar tulus “, “Berdo’a, mendo’akan dan mintalah do’a sesering-seringnya dan sebanyak-banyaknya karna kita tidak tahu dari do’a mana dan orang mana yang terkabul”, “Bacalah ayat suci sesering-seringnya dan sebanyak-banyaknya karna kita tidak tahu dari bacaan kita yang mana yang benar-benar lidah kita fasih mengucapkannya” dan lain sebagainya, bisa teman-taman apliksikan sendiri .

Jadi, masih meragukan diri-sendiri untuk berbuat baik dan beramal sholeh?, untuk mulai beribadah masih menunggu diri merasa labih baik atau pantas?.

Dibulan suci penuh rahmat ini Allah memeberikan pahala labih di banding bulan-bulan lainnya, mari kita perbanyak dan per”sering” ibadah kita, semoga kita menjadi manusia yang fitri dan mulia disisi-Nya.

Semoga Bermanfaat.

Benarkah, 1 hari di Akhirat sama dengan 1000 hari di dunia ?

*****BUTUH PENCERAHAN*****

Bismillah…. Sebelumnya maaf mungkin fikiran ana agak sembrono dan belum sempet nyari2 referensi lain, satu jam qoblal jumah ana  baca artikel tentang sejarah bulan Januari sampai Desember. Buat temen2 baca  dulu “postingan kaskus di bawah yo” ben  nyambung 😀

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10069126 

Ketika Khutbah jumat khotib bilang bahwa para nabi dan orang2 jaman dahulu umurnya sampai ratusan bahkan ribuan tahun lamanya.

*Pada postingan kaskus di atas tertulis bahwa bulan masehi pada awalnya ada 10 bulan*
*Bulan Hijriyah dipakai setelah nabi berhijrah*

My point of view…:

Ketika bulan masehi belum 12 bulan (ratusan tahun lamanya), bisa di artikan orang bertambah umur ketika bulan yang 10 terulang (tangal lahir ke tanggal lahir lg/ultah). Jaman sekarang tambah umur ketika 12 bulan berputar (tanggal lahir ke tanggal lahir lagi/ultah). Got the point…

(Pertanyaan orang jahil  / saya) -> Orang2 arab sebelum Hijriyyah dipakai, mereka menggunakan bulan apa ?? Mereka menentukan bulan pakai tolak ukur yang mana, 10 bulan atau 12 bulan, atau mungkin mereka punya perhitungan sendiri yang perhitungannya amat sangat jauh berbeda dengan perhitungan sekarang.

 (Asumsi orang bodoh / Aku ) -> Jadi mungkin umur mereka yang sampai ribuan tahun itu  karna ada perbedaan signifikan dalam perhitungan bulan (mungkin gak kalo 1 tahun zaman dahulu itu Cuma 5 bulan, 3 bulan, 1 bulan atau bahkan satu minggu?), apakah ketika zaman nabi Adam sudah ditemukan tolak ukur untuk perputaran bulan ? (maaf bukan bermaksud meragukan tapi mencari kebenaran untuk meyakinkan, hahah kayak satria baja hitam rx, pembela kebenaran).

 (Pertanyaan sembrooono… Ya Allah! ampuni aku jika berdosa karna menanyakan ini) kita sering dengar bahwa 1 hari di akhirat = 1000 tahun di dunia (mohon diralat jika salah). Pertanyaanku, tahun yang dipake didunia ini yang mana? Yang 1 tahun dari 10 bulan, satu tahun dari 12 bulan, atau 1 tahun dari perhitungan yang tidak kita ketahui ?  

Ya Allah ampuni aku jika keraguan terdetik dihatiku!

Mungkin dari temen2 ada yang punya refernsi, kasih ana ya! Jazakallhu khoiron buat temen2 yang sudah mau menanggapi.

This writing, pure from my stupidity …. please do not scorn me 😀  
Postingan ini sudah dipostingkan di FB  

Life is Like a Cup of Coffee

Bismillah…

A group of alumni, highly established in their careers, got together to visit their old university professor. Conversation soon turned into complaints about stress in work and life. Offering his guests coffee, the professor went to the kitchen and returned with a large pot of coffee and an assortment of cups – porcelain, plastic, glass, crystal, some plain looking, some expensive, some exquisite – telling them to help themselves to the coffee. 

When all the students had a cup of coffee in hand, the professor said: “If you noticed, all the nice looking expensive cups have been taken up, leaving behind the plain and cheap ones. While it is normal for you to want only the best for yourselves, that is the source of your problems and stress.

Be assured that the cup itself adds no quality to the coffee. In most cases it is just more expensive and in some cases even hides what we drink. What all of you really wanted was coffee, not the cup, but you consciously went for the best cups… And then you began eyeing each other’s cups.

Now consider this: Life is the coffee; the jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold and contain Life, and the type of cup we have does not define, nor change the quality of life we live. Sometimes, by concentrating only on the cup, we fail to enjoy the coffee. Savor the coffee, not the cups! The happiest people don’t have the best of everything. They just make the best of everything. Live simply. Love generously. Care deeply. Speak kindly. 

May be useful…!