“Score Oriented” dan Falsafah Hidup

Bismillah.. 

Kau boleh menghina aku yang sangat berantusias mendapatkan kedudukan, kawan… Kau boleh mengatakan aku sebagai orang munafik yang berpura-pura baik di hadapan manusia… Tetapi tahukah engkau kenapa aku menjadi seperti ini?

Jangan salahkan aku kawan… Jika kini aku telah menjadi manusia yang gila akan kedudukan. Jika kini aku ingin menjadi yang terbaik di antara kalian. Aku terlahir dalam lingkungan yang selalu mengedepankan persaingan. Tidak kah engkau menyadari sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga mahasiswa aku selalu mendapatkan pendidikan tentang itu. Aku belajar untuk memperoleh nilai. Aku belajar untuk mmperoleh peringkat.

Ketika nilaiku rendah, mereka memperbandingkan aku dengan teman-temanku yang lain. Mereka selalu mempertanyakan kenapa aku tidak bisa seperti teman-temanku. Memang benar, mereka tidak langsung melontarkan kata ”malas dan bodoh” ke arah mukaku. Namun aku mengerti akan pandangan kehinaan itu.

Ketika aku mendapatkan nilai yang baik, mereka menyanjungku hingga aku tak mampu menguasai diriku lagi. Mereka memuji dengan kata-kata manis dan angan-angan palsu. Meraka menempatkan posisiku menjadi bagian terpenting di dalam kelas.

Kau lihat.. Segala sesuatu yang ada padaku selalu diukur dengan nilai. Catatanku mereka nilai… Pengetahuanku mereka nilai… Penampilanku mereka nilai… Akhlakku juga mereka ukur dengan nilai… Wajar jika aku selalu mengedepankan penilaian. Wajar aku memperbandingkan diriku dengan orang lain. Wajar juga aku ingin mencari kedudukan di hadapan mereka.

Lebih parahnya kawan.. Ketika aku telah belajar bersusah payah, tetapi mereka tidak menghargai jerih upayaku. Kau pasti tahu  apa yang mereka lihat? Ya.. tentu saja nilai..

Kawan… hatiku begitu hancur. Ketika aku berpegang kepada kejujuran, sementara orang-orang yang mengaku sebagai para penuntut ilmu itu dengan seenaknya melakukan kecurangan di depan mata kepalaku sendiri. Kau tahu tidak, justru mereka yang diagung-agungkan sedangkan aku malah dihinakan karena kejujuranku. Jangan salahkan aku jika aku terdidik menjadi orang yang menghalalkan segala cara untuk meraih apa yang ku inginkan.

Ya begitulah kawan.. Selama ini aku hanya diajarkan untuk mendapatkan nilai yang baik. Aku hanya diajarkan untuk bisa mendapatkan gelar yang akan melekat pada namaku. Agar nanti aku bisa berbangga diri di hadapanmu.. Aku juga hanya diajarkan bagaimana mendapatkan penialian baik dihadapan manusia… Sedangkan aku tak pernah diajarkan bagaimana nikmatnya menuntut ilmu..

Jika engakau mengatakan  nilai sebagai motivasi untuk belajar, engkau sungguh salah besar kawan.. Mungkin benar untuk memotivasi, tetapi memotivasi untuk mengejar penghargaan manusiakah yang engkau maksudkan?

Aku tidak pernah mendengar Rasulullah  SAW yang menjadi suri tauladan kita dalam segala aspek kehidupan pernah mendidik para sahabatnya dengan menggunakan sistem penilaian. Rasulullah justru memotivasi mereka dengan menjelaskan akan keutamaan orang yang berilmu dalam pandangan Allah. Bukan pandangan manusia yang hanya diukur dengan nilai. Wajar menurutku jika generasi para sahabat tidak mengharapkan kedudukan dihadapan manusia dan hanya mengaharapkan kedudukan di hadapan Allah SWT.

Oleh : Salahuddin Al Ayubi

Semoga bermanfaat..

(Visited 1 times, 1 visits today)